Tongkrongan Malam Grup Motor

Tongkrongan Malam Grup Motor

Duniamalamdimedan.web.id – Masjid Raya Al-Maksum, adalah salah satu ikon kota Medan, tetapi ada pemandangan berbeda setiap Jumat malam. Kemarin malam (25/4/2014) ada banyak klub motor yang berkumpul di sekitar Masjidil Haram dan kolam renang Sri Deli sebagai tempat pertemuan.

Berbagai club nongkrong di seputar Mesjid Raya, ada club motor mio, club motor ninja, club motor vespa dan lainnya.

Putra, salah satu anggota dari club motor mengatakan memilih nongkrong di Mesjid Raya karena mesjid ini merupakan icon Kota Medan. “Dan disini kita bukan hanya sekedar nongkrong gagah-gagahan bang, terkadang kita buat acara juga dan tempat ini menjaga silaturahmi dengan kawan-kawan, yang mungkin hanya ketemu seminggu sekali,” ujarnya pada www.tribun.medan.com

Ia juga menambahkan jika club motor yang nongkrong disini cinta seni dan juga cinta damai. “Kami juga ingin mensosialisasikan.pada masyarakat, kalau kami ini club motor atau pun geng motor yang cinta damai, dan kami mau bilang, kalo ada yang ngaku geng motor tapi buat kriminal itu bukan geng motor bang, tapi itu kriminal bermotor, karna geng motor itu cinta damai,” tambahnya.

Sejarah Singkat Mesjid Raya Medan
Masjid Raya Medan atau Masjid Raya Al Mashun merupakan sebuah masjid yang terletak di Medan, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Pada awal pendiriannya, masjid ini menyatu dengan kompleks istana. Gaya arsitekturnya khas Timur Tengah, India dan Spanyol. Masjid ini berbentuk segi delapan dan memiliki sayap di bagian selatan, timur, utara dan barat. Masjid Raya Medan ini merupakan saksi sejarah kehebatan Suku Melayu sang pemilik dari Kesultanan Deli (Kota Medan).

Baca juga : Sate Padang Malam Kota Medan

Pembangunan
Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli memulai pembangunan Masjid Raya Al Mashun pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Keseluruhan pembangunan rampung pada tanggal 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H) sekaligus digunakan yang ditandai dengan pelaksanaan sholat Jum’at pertama di masjid ini. Keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden. Sultan memang sengaja membangun masjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Pendanaan pembangunan masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan, namun konon Tjong A Fie, tokoh kota Medan dari etnis Tionghoa yang sezaman dengan Sultan Ma’mun Al Rasyid turut berkontribusi mendanai pembangunan masjid ini.

Related posts